Logo
HOMEABOUTPROJECTSBLOGCONTACT

Luthfi A. Pratama

Enterprise integration specialist building scalable, mission-critical solutions for modern businesses.

LINKS

  • About
  • Projects
  • Blog
  • Contact

CONNECT

GitHubLinkedInEmail

© 2026 Luthfi A. Pratama. All rights reserved.

Designed and built with passion.

Back to all articles
Personal Development

Kakek, Nenek, dan Cucu: Pelajaran Hidup dari Tindakan Kecil di Pagi Hari

What can we learn from this simple family? They're not just giving food, but also spreading invaluable values through small acts of kindness every morning.

Luthfi A. Pratama

Luthfi A. Pratama

Software Engineer

2024-10-07
6 min read
Kakek, Nenek, dan Cucu: Pelajaran Hidup dari Tindakan Kecil di Pagi Hari

Beberapa hari terakhir, aku mulai rutin jogging setiap pagi. Rasanya menyegarkan bisa menghirup udara pagi yang masih sejuk sambil menikmati ketenangan sebelum hiruk-pikuk aktivitas dimulai. Rute yang kuambil melewati sebuah taman yang terletak tidak jauh dari rumahku. Taman itu sederhana, dengan beberapa bangku, permainan anak-anak, dan pepohonan rindang yang memberikan keteduhan. Namun, yang membuat taman itu istimewa bagiku adalah keberadaan kucing-kucing liar yang selalu berkumpul di sana. Biasanya, ada sekitar 5 hingga 8 ekor kucing yang bermain, berlari-larian, atau sekadar berjemur di bawah sinar matahari pagi.

Setiap kali melewati taman itu, aku selalu memperhatikan sesuatu yang menarik perhatianku: banyak kepala ayam yang berserakan di sekitar area tersebut. Awalnya, aku merasa heran dan sedikit terganggu. Aku berpikir, siapa yang membuang sisa-sisa makanan di taman umum seperti ini? Namun, seiring waktu, aku mulai menyadari pola yang terjadi. Setiap pagi, kepala-kepala ayam itu selalu ada di tempat yang sama, dan kucing-kucing tampak menikmati makanan tersebut. Pikiran ini membuatku bertanya-tanya, siapa orang baik hati yang memberikan makanan kepada kucing-kucing liar ini dalam jumlah yang cukup banyak setiap harinya?

Rasa penasaranku semakin besar. Aku mulai memperhatikan lebih detail setiap kali melewati taman itu. Aku ingin mengetahui siapa dermawan misterius yang peduli terhadap kesejahteraan kucing-kucing tersebut. Hingga pada suatu pagi yang cerah, saat langit berwarna keemasan oleh sinar matahari terbit, aku melihat sebuah pemandangan yang menjawab semua pertanyaanku.

Dari kejauhan, aku melihat seorang kakek dan nenek yang tampak berusia sekitar enam puluhan tahun, menaiki sebuah motor tua bersama cucu mereka yang mungkin berusia sekitar delapan tahun. Mereka bertiga tampak harmonis, dengan senyum merekah di wajah mereka. Motor itu berhenti di dekat taman, dan seketika kucing-kucing yang biasanya tersebar mulai bergerak mendekati mereka. Rupanya, kucing-kucing itu mengenali suara motor atau mungkin siluet keluarga kecil tersebut.

Mereka membawa sebuah kantong besar yang, setelah diamati, berisi kepala-kepala ayam. Dengan penuh kasih sayang, mereka mulai membagikan kepala ayam tersebut kepada kucing-kucing yang sudah menunggu dengan antusias dari atas motor. Cucu mereka tampak sangat bersemangat, tertawa kecil sambil melihat kucing yang mengerombol. Kakek dan neneknya dengan sabar membimbingnya, menunjukkan cara memberi makan yang baik tanpa membuat kucing-kucing itu ketakutan.

Aku terpesona oleh pemandangan tersebut. Ternyata, setiap pagi, keluarga ini meluangkan waktu untuk memberi makan kucing-kucing liar di taman. Jika ada kucing yang terlalu pemalu atau berada agak jauh, mereka dengan sabar mendekatinya dan memastikan kucing tersebut mendapatkan bagiannya. Kucing-kucing itu tampak sangat akrab dengan mereka, seolah-olah sudah mengenal mereka sejak lama.

Melihat cucu mereka yang masih kecil terlibat aktif dalam kegiatan ini membuat hatiku hangat. Aku membayangkan betapa berharganya pelajaran yang ditanamkan oleh kakek dan neneknya. Di usia yang masih sangat muda, anak itu sudah diajarkan tentang kasih sayang, empati, dan pentingnya peduli terhadap makhluk lain. Mereka tidak hanya memberinya teori, tetapi langsung mengajaknya terlibat dalam tindakan nyata. Ini adalah pendidikan karakter yang sangat berharga, yang mungkin akan membentuknya menjadi pribadi yang peduli dan penuh kasih di masa depan.

Aku merenungkan betapa tindakan sederhana seperti ini bisa memiliki dampak yang begitu besar. Bagi kucing-kucing itu, kepala ayam yang diberikan mungkin adalah sumber makanan utama mereka. Bagi cucu mereka, ini adalah pengalaman berharga yang akan diingat seumur hidup. Dan bagi orang-orang seperti aku yang kebetulan menyaksikannya, ini adalah pengingat tentang kebaikan hati dan kepedulian yang masih ada di dunia ini.

Setelah beberapa saat, keluarga itu selesai membagikan makanan dan bersiap untuk pergi. Sebelum pergi, cucu mereka melambaikan tangan ke arah kucing-kucing, seolah mengucapkan selamat tinggal. Kakek dan neneknya tersenyum, tampak puas dengan apa yang telah mereka lakukan. Mereka kemudian melanjutkan perjalanan, mungkin menuju ke tempat lain dengan misi kebaikan yang sama.

Aku melanjutkan jogging dengan perasaan yang berbeda. Ada kehangatan yang menyelimuti hatiku, sekaligus dorongan untuk melakukan hal baik dalam hidupku. Pengalaman ini mengajarkanku bahwa kebaikan tidak selalu harus dalam bentuk yang besar atau membutuhkan banyak materi. Tindakan kecil yang dilakukan dengan tulus bisa memberikan dampak yang luar biasa, baik bagi penerima maupun bagi orang lain yang menyaksikannya.

Aku juga berpikir tentang bagaimana kita bisa menanamkan nilai-nilai kebaikan kepada generasi muda. Seperti kakek dan nenek itu, kita bisa mengajak anak-anak untuk terlibat langsung dalam kegiatan positif, memberi contoh nyata tentang bagaimana seharusnya berperilaku. Pendidikan bukan hanya tentang apa yang diajarkan di sekolah, tetapi juga tentang pengalaman hidup dan teladan yang diberikan oleh orang-orang terdekat.

Pengalaman ini juga membuatku lebih peka terhadap lingkungan sekitarku. Aku mulai memperhatikan hal-hal kecil yang sebelumnya mungkin terlewatkan. Senyuman dari orang asing, sapaan dari tetangga, atau bahkan keindahan bunga yang mekar di tepi jalan. Semua itu menambah warna dalam hidupku dan mengingatkanku untuk selalu bersyukur.

Kisah ini mungkin sederhana, tetapi bagiku memiliki makna yang dalam. Ini adalah pengingat bahwa di tengah kesibukan dan tantangan hidup, selalu ada ruang untuk kebaikan dan kasih sayang. Dan terkadang, dari tindakan kecil seperti memberi makan kucing liar, kita bisa belajar pelajaran berharga tentang kehidupan.

Topics

Personal Development

Related Articles

Fooled by Randomness: Catatan tentang Luck dan Skill

Refleksi personal tentang buku Nassim Taleb yang membedah bagaimana kita salah paham peran luck dalam success - notes tentang randomness yang kita ignore.

The Black Swan: Catatan tentang Ketidakpastian dan Arrogance

Refleksi personal tentang buku Nassim Taleb yang mengubah cara pandang terhadap prediksi, risk, dan kejadian ekstrem yang mengubah dunia.

Educated: Catatan tentang Harga Pendidikan

Refleksi personal tentang memoir Tara Westover - cerita keluar dari keluarga isolasi survivalist sampai PhD Cambridge, dan apa yang hilang di perjalanan itu.