
Baca buku ini karena penasaran kenapa gue bisa scroll Instagram 2 jam tanpa sadar.
Atau check email berkali-kali walaupun baru dibuka 5 menit lalu.
Ternyata ini semua by design. Ada framework spesifik.
Dan setelah baca ini, gue jadi aware (dan sedikit takut) betapa powerful framework ini.
The Hook Model
Framework 4 langkah:
- Trigger - pemicu behavior
- Action - perilaku dengan ekspektasi reward
- Variable Reward - reward yang bikin pengen lebih
- Investment - user masukkan sesuatu yang tingkatkan likelihood trigger berikutnya
Loop berulang sampai jadi kebiasaan.
Simple tapi devastatingly effective.
Trigger: Yang Berbahaya adalah Internal
External triggers obvious. Notifikasi, email, iklan.
Tapi yang berbahaya: internal triggers.
Bosan → Buka Instagram.
Cemas → Scroll Twitter.
Ga yakin → Google sesuatu.
Produk paling sukses asosiasi diri dengan emosi.
Facebook = solusi untuk "kesepian."
YouTube = solusi untuk "bosan."
Google = solusi untuk "ga yakin."
Realisasi personal
Setiap kali uncomfortable emotion, reflex gue ambil hp.
Ga conscious. Pure reflex.
Apps sudah jadi automatic response untuk negative feelings.
Gue ga pakai apps. Apps pakai gue.
Action: Hilangkan Friction
Untuk action terjadi butuh: Motivasi × Kemampuan × Trigger.
Produk habit-forming fokus bikin action semudah mungkin.
Instagram/TikTok: infinite scroll. Swipe ke bawah. Itu aja.
YouTube/Netflix: autoplay. Literally ga perlu action. Default adalah lanjut.
Mereka balik friction. Lebih mudah lanjut daripada stop.
Observasi sebagai developer
Setiap design feature: "Gimana cara simplify?"
Tapi setelah baca ini, sadar: simplification bisa jadi manipulation.
Hilangkan friction untuk bantu user? Bagus.
Hilangkan friction untuk eksploitasi user? Questionable.
Garisnya blur.
Variable Reward: Ketidakpastian Menciptakan Craving
Kenapa "variable" bukan "fixed"?
Karena unpredictability creates craving.
Mesin slot adiktif karena MUNGKIN menang. Bukan pasti menang atau pasti kalah.
Dopamine spike dari antisipasi, bukan reward itu sendiri.
3 Tipe rewards
Hunt rewards: Poin, koin, diskon, deals. Shopee/Tokopedia dengan flash sales.
Tribe rewards: Likes, komen, followers. LinkedIn dengan "post kamu di top 5%."
Self rewards: Mastery, streak, progress. Duolingo streak, GitHub contribution graph.
Personal
Gue vulnerable ke dua: hunt dan self.
Hunt: Ga bisa resist "limited time offer" walaupun ga butuh.
Self: Maintain GitHub streak seperti hidup gue tergantung itu. Lihat contribution graph ada hole, ada rasa ga enak.
Yang sosial ga terlalu.
Investment: Switching Cost
Setelah dapat reward, minta user invest: waktu, data, usaha.
Semakin banyak invest, semakin susah pergi.
Spotify: Setelah bertahun-tahun curate playlists, pindah ke Apple Music? Pain.
Notion: Setelah organize semua notes, pindah ke Obsidian? Effort.
Investment menciptakan switching cost.
Dan phase ini perfect untuk load next trigger.
"Aktifkan notifikasi supaya ga miss!" (setelah invest waktu bikin profil)
User dalam positive state, lebih likely bilang ya.
Pertanyaan Etika
Buku punya "Manipulation Matrix":
- Facilitator: Pembuat pakai, produk improve lives. (bagus)
- Peddler: Pembuat ga pakai, produk improve lives. (questionable)
- Entertainer: Pembuat pakai, produk ga improve lives. (questionable)
- Dealer: Pembuat ga pakai, produk ga improve lives. (jelek)
Struggle dengan ini
Siapa yang decide apa yang "improve life"?
Facebook: "Connect people" tapi riset show → depresi, anxiety.
Mobile games: "Hiburan" tapi kecanduan hancurkan hidup.
Garis antara helpful dan harmful blur.
Short-term improvement vs long-term harm.
Scroll social media → immediate relief (bagus!). Long-term → attention span hancur (jelek!).
Sebagai builder
Building feature yang tingkatkan engagement → bagus untuk metrics.
Tapi bagus untuk users? Atau eksploitasi?
"Satu feature lagi untuk mudahkan" → atau satu hook lagi untuk jebak?
Rasionalisasi mudah. "Users punya pilihan."
Tapi kalau design untuk eksploitasi cognitive biases, apakah benar-benar pilihan?
Ga ada jawaban jelas.
Recognizing Hooks
Setelah baca, ga bisa unsee hooks everywhere.
TikTok perfect execution: internal trigger (bosan) → effortless action (swipe) → variable reward (kadang lucu, kadang informatif, kadang mengejutkan) → investment (algoritma belajar preferensi).
Duolingo interesting: mechanism sama dengan harmful apps, tapi arguably improve lives (belajar bahasa).
Kecanduan ke productive thing tetap kecanduan.
Defense Mechanisms
Sebagai user:
Identifikasi triggers. Setiap reach for phone: "Apa yang memicu?"
Tingkatkan friction. Hapus apps adiktif. Matikan notifikasi. Grayscale mode.
Ganti loops. Bosan → baca buku instead of Instagram.
Scheduled checking. Email 3x sehari. Social media 1x sehari, 30 menit.
Struktur beats willpower.
Sebagai builder
Pertanyakan "engagement" metric. Lebih banyak waktu = lebih baik? Atau cuma lebih kecanduan?
Prioritaskan user goals over company goals.
Build exit ramps. Jangan melawan natural stopping points.
Transparansi tentang persuasive design.
Ga sempurna. Masih struggle dengan trade-offs.
Bottom line
Buku ini bukan comfortable.
Bikin question banyak produk (dan pekerjaan sendiri).
Tapi awareness necessary.
Hook Model adalah peta. Pakai untuk bantu orang atau jebak orang - pilihan dengan tanggung jawab.
Gue masih wrestling dengan implikasi.
Tapi at least sekarang struggle dengan mata terbuka.
Hooks akan selalu ada. Pertanyaannya: pakai bijak atau sembarangan?
