Logo
HOMEABOUTPROJECTSBLOGCONTACT

Luthfi A. Pratama

Enterprise integration specialist building scalable, mission-critical solutions for modern businesses.

LINKS

  • About
  • Projects
  • Blog
  • Contact

CONNECT

GitHubLinkedInEmail

© 2026 Luthfi A. Pratama. All rights reserved.

Designed and built with passion.

Back to all articles
Book Reviews

Hooked: Catatan tentang Habit-Forming Products

Refleksi personal tentang buku Nir Eyal yang membedah mekanisme produk yang bikin kecanduan - perspektif developer yang bikin dan juga victim dari habit loops.

Luthfi A. Pratama

Luthfi A. Pratama

Software Engineer

2024-12-20
8 min read
Hooked: Catatan tentang Habit-Forming Products

Hooked Book Cover

Baca buku ini karena penasaran kenapa gue bisa scroll Instagram 2 jam tanpa sadar.

Atau check email berkali-kali walaupun baru dibuka 5 menit lalu.

Ternyata ini semua by design. Ada framework spesifik.

Dan setelah baca ini, gue jadi aware (dan sedikit takut) betapa powerful framework ini.

The Hook Model

Framework 4 langkah:

  1. Trigger - pemicu behavior
  2. Action - perilaku dengan ekspektasi reward
  3. Variable Reward - reward yang bikin pengen lebih
  4. Investment - user masukkan sesuatu yang tingkatkan likelihood trigger berikutnya

Loop berulang sampai jadi kebiasaan.

Simple tapi devastatingly effective.

Trigger: Yang Berbahaya adalah Internal

External triggers obvious. Notifikasi, email, iklan.

Tapi yang berbahaya: internal triggers.

Bosan → Buka Instagram.
Cemas → Scroll Twitter.
Ga yakin → Google sesuatu.

Produk paling sukses asosiasi diri dengan emosi.

Facebook = solusi untuk "kesepian."
YouTube = solusi untuk "bosan."
Google = solusi untuk "ga yakin."

Realisasi personal

Setiap kali uncomfortable emotion, reflex gue ambil hp.

Ga conscious. Pure reflex.

Apps sudah jadi automatic response untuk negative feelings.

Gue ga pakai apps. Apps pakai gue.

Action: Hilangkan Friction

Untuk action terjadi butuh: Motivasi × Kemampuan × Trigger.

Produk habit-forming fokus bikin action semudah mungkin.

Instagram/TikTok: infinite scroll. Swipe ke bawah. Itu aja.

YouTube/Netflix: autoplay. Literally ga perlu action. Default adalah lanjut.

Mereka balik friction. Lebih mudah lanjut daripada stop.

Observasi sebagai developer

Setiap design feature: "Gimana cara simplify?"

Tapi setelah baca ini, sadar: simplification bisa jadi manipulation.

Hilangkan friction untuk bantu user? Bagus.

Hilangkan friction untuk eksploitasi user? Questionable.

Garisnya blur.

Variable Reward: Ketidakpastian Menciptakan Craving

Kenapa "variable" bukan "fixed"?

Karena unpredictability creates craving.

Mesin slot adiktif karena MUNGKIN menang. Bukan pasti menang atau pasti kalah.

Dopamine spike dari antisipasi, bukan reward itu sendiri.

3 Tipe rewards

Hunt rewards: Poin, koin, diskon, deals. Shopee/Tokopedia dengan flash sales.

Tribe rewards: Likes, komen, followers. LinkedIn dengan "post kamu di top 5%."

Self rewards: Mastery, streak, progress. Duolingo streak, GitHub contribution graph.

Personal

Gue vulnerable ke dua: hunt dan self.

Hunt: Ga bisa resist "limited time offer" walaupun ga butuh.

Self: Maintain GitHub streak seperti hidup gue tergantung itu. Lihat contribution graph ada hole, ada rasa ga enak.

Yang sosial ga terlalu.

Investment: Switching Cost

Setelah dapat reward, minta user invest: waktu, data, usaha.

Semakin banyak invest, semakin susah pergi.

Spotify: Setelah bertahun-tahun curate playlists, pindah ke Apple Music? Pain.

Notion: Setelah organize semua notes, pindah ke Obsidian? Effort.

Investment menciptakan switching cost.

Dan phase ini perfect untuk load next trigger.

"Aktifkan notifikasi supaya ga miss!" (setelah invest waktu bikin profil)

User dalam positive state, lebih likely bilang ya.

Pertanyaan Etika

Buku punya "Manipulation Matrix":

  • Facilitator: Pembuat pakai, produk improve lives. (bagus)
  • Peddler: Pembuat ga pakai, produk improve lives. (questionable)
  • Entertainer: Pembuat pakai, produk ga improve lives. (questionable)
  • Dealer: Pembuat ga pakai, produk ga improve lives. (jelek)

Struggle dengan ini

Siapa yang decide apa yang "improve life"?

Facebook: "Connect people" tapi riset show → depresi, anxiety.

Mobile games: "Hiburan" tapi kecanduan hancurkan hidup.

Garis antara helpful dan harmful blur.

Short-term improvement vs long-term harm.

Scroll social media → immediate relief (bagus!). Long-term → attention span hancur (jelek!).

Sebagai builder

Building feature yang tingkatkan engagement → bagus untuk metrics.

Tapi bagus untuk users? Atau eksploitasi?

"Satu feature lagi untuk mudahkan" → atau satu hook lagi untuk jebak?

Rasionalisasi mudah. "Users punya pilihan."

Tapi kalau design untuk eksploitasi cognitive biases, apakah benar-benar pilihan?

Ga ada jawaban jelas.

Recognizing Hooks

Setelah baca, ga bisa unsee hooks everywhere.

TikTok perfect execution: internal trigger (bosan) → effortless action (swipe) → variable reward (kadang lucu, kadang informatif, kadang mengejutkan) → investment (algoritma belajar preferensi).

Duolingo interesting: mechanism sama dengan harmful apps, tapi arguably improve lives (belajar bahasa).

Kecanduan ke productive thing tetap kecanduan.

Defense Mechanisms

Sebagai user:

Identifikasi triggers. Setiap reach for phone: "Apa yang memicu?"

Tingkatkan friction. Hapus apps adiktif. Matikan notifikasi. Grayscale mode.

Ganti loops. Bosan → baca buku instead of Instagram.

Scheduled checking. Email 3x sehari. Social media 1x sehari, 30 menit.

Struktur beats willpower.

Sebagai builder

Pertanyakan "engagement" metric. Lebih banyak waktu = lebih baik? Atau cuma lebih kecanduan?

Prioritaskan user goals over company goals.

Build exit ramps. Jangan melawan natural stopping points.

Transparansi tentang persuasive design.

Ga sempurna. Masih struggle dengan trade-offs.

Bottom line

Buku ini bukan comfortable.

Bikin question banyak produk (dan pekerjaan sendiri).

Tapi awareness necessary.

Hook Model adalah peta. Pakai untuk bantu orang atau jebak orang - pilihan dengan tanggung jawab.

Gue masih wrestling dengan implikasi.

Tapi at least sekarang struggle dengan mata terbuka.

Hooks akan selalu ada. Pertanyaannya: pakai bijak atau sembarangan?

Topics

Book ReviewsSoftware Engineering

Related Articles

Deep Work: Catatan tentang Fokus di Era Distraksi

Refleksi tentang buku Cal Newport yang membahas kenapa kemampuan fokus mendalam jadi langka dan valuable - perspektif developer yang struggle dengan constant interruptions.

Fooled by Randomness: Catatan tentang Luck dan Skill

Refleksi personal tentang buku Nassim Taleb yang membedah bagaimana kita salah paham peran luck dalam success - notes tentang randomness yang kita ignore.

The Pragmatic Programmer: Catatan tentang Craft Software Engineering

Refleksi personal tentang buku klasik Andrew Hunt dan David Thomas - pelajaran timeless tentang menjadi better developer beyond syntax dan framework.