Logo
HOMEABOUTPROJECTSBLOGCONTACT

Luthfi A. Pratama

Enterprise integration specialist building scalable, mission-critical solutions for modern businesses.

LINKS

  • About
  • Projects
  • Blog
  • Contact

CONNECT

GitHubLinkedInEmail

© 2026 Luthfi A. Pratama. All rights reserved.

Designed and built with passion.

Back to all articles
Book Reviews

The Lean Startup: Catatan tentang Build-Measure-Learn

Personal reflections on The Lean Startup methodology and how it changed my approach to building products - notes from someone who learned the hard way about validated learning.

Luthfi A. Pratama

Luthfi A. Pratama

Software Engineer

2024-11-15
7 min read
The Lean Startup: Catatan tentang Build-Measure-Learn

The Lean Startup Book Cover

Inget banget waktu itu sprint 3 bulan buat fitur yang cuma dipake 2%. Rasanya kayak sia-sia banget. PM bilang ini bakal jadi game-changer, tapi ternyata... ya gitu deh. Feature itu sekarang cuma jadi dead code yang bikin codebase makin bloated.

Terus baca buku ini. Baru sadar kenapa itu bisa kejadian.

Build-Measure-Learn (atau sebenarnya Learn-Measure-Build)

Jadi yang menarik itu konsepnya dibalik sebenarnya. Mulainya dari learning goal, bukan dari "kita mau bikin apa".

Yang biasa terjadi:

  • "Kita bikin payment multi-channel karena kompetitor punya"
  • "Kita tambahin AI karena lagi tren"

Yang seharusnya:

  • "Hipotesis: user drop karena payment option terbatas. Target: conversion naik 15% kalau tambah e-wallet"
  • "Hipotesis: 70% user browsing tapi ga beli. Kalau ada recommendation, purchase rate naik ga?"

Bedanya subtle tapi penting. Jadi bukan sekadar "bikin fitur" tapi "validasi asumsi".

MVP ≠ Produk Setengah Jadi

Salah pemahaman paling sering nih. MVP bukan berarti boleh kode jelek, boleh UX ancur.

MVP itu: hal terkecil yang bisa validasi hipotesis.

Contoh favorite: Dropbox video demo. Cuma video 3 menit. Ga ada kode production sama sekali. Tapi validasi demand - 75k orang daftar waiting list overnight.

Atau Gojek early days - fokus ojek booking aja dulu. Baru ekspansi ke Go-Food dll setelah demand jelas.

Bayangin kalau Gojek dari awal bikin super app lengkap 20 services. Probably kehabisan dana sebelum nemuin product-market fit.

Vanity Metrics vs Actionable Metrics

Ini yang sering kelewat. Ada metrics yang cuma bikin kita merasa bagus, tapi sebenernya ga ngasih insight.

Vanity:

  • "500k registered users!" (berapa yang aktif?)
  • "Traffic naik 300%!" (conversion rate gimana?)
  • "100k downloads!" (retention berapa?)

Actionable:

  • DAU/MAU ratio
  • Week 1 retention
  • Time to first value
  • LTV vs CAC

Inget ada startup yang obsessed sama total signup. CEO bangga banget show grafik exponential. Tapi pas diliat dalam:

  • 90% user ga balik setelah first session
  • Conversion <1%
  • Churn rate > acquisition rate

Eventually collapse.

Karena ngukur hal yang salah.

Pivot or Persevere

Ini yang paling susah secara emosional.

Udah spend berbulan-bulan, passionate sama vision, team sacrifice banyak. Terus data bilang: not working.

Ego: "Gue udah bilang dari awal ini bakal work!"
Sunk cost: "Udah invest terlalu banyak!"
Fear: "Nanti orang mikir gue ga punya conviction"

Tapi yang lebih susah dari pivot: dying slowly karena ga mau pivot.

Red flags kapan harus consider pivot:

  1. Growth menurun meski effort naik
  2. Churn rate tinggi terus
  3. Low engagement - signup tapi ga pake
  4. Susah jelasin value prop
  5. Selalu bilang "if only..." - itu excuse, bukan alasan

Personal experience:

Pernah involved internal tool project. Vision: comprehensive platform handle everything - code review, deployment, monitoring, incident management.

Ambitious. Tapi unrealistic.

6 bulan kemudian usage 12%. Majority dev masih prefer existing tools. Feedback: "Too complicated".

Hard truth: we built wrong thing.

Decision: pivot. Zoom-in ke deployment automation aja, yang punya satisfaction score paling tinggi.

Result: usage jump ke 67% dalam 2 bulan.

Lesson: sometimes need to think smaller to win bigger.

Aplikasi di Indonesia

Not everything dari buku ini langsung applicable. Context matters.

Yang works well:

  • MVP mindset crucial - kita resource terbatas, harus efficient
  • Local validation non-negotiable - user behavior beda dari US
  • Rapid iteration match sama market dynamics yang cepat berubah

Yang challenging:

  • "Move fast break things" vs risk-averse culture
  • Data infrastructure - banyak company belum punya analytics proper
  • "Failure is learning" vs "failure is shameful" - cultural barrier

Dark side: when Lean becomes excuse

Harus jujur - Lean Startup bisa disalahgunakan.

"We're being lean!" jadi excuse untuk:

  • Poor code quality - "ini cuma MVP kok!"
  • Bad UX - "testing value prop dulu!"
  • Lack of vision - "pivot every 2 weeks based on data!"
  • Ignoring fundamentals - "fokus growth dulu, unit economics belakangan!"

Ini salah semua.

Technical debt dari "lean MVP" will haunt you. UX IS PART OF value prop. Data should inform, not dictate. Growth tanpa fundamentals = unsustainable.

How to actually do this

Before writing code, tanya:

  • Hipotesis apa yang mau di-test?
  • Smallest version yang bisa test ini?
  • Metrics apa yang prove/disprove?
  • Success criteria?

Build with feature flags

Deploy production tapi control siapa yang liat. Test sama subset dulu.

Instrument everything

Add tracking dari day one. Ga bisa measure kalau ga track.

Make rollback easy

Kalau fail, harus bisa rollback cepat. Invest in CI/CD.

Beyond building products

Konsep ini applicable beyond work:

Waktu mau belajar new tech stack - build small project dulu (MVP) sebelum commit to complete course. Validasi apakah actually interested.

Consider career move - do small experiment (freelance, side gig) dulu sebelum full jump. Test fit.

Start new habit - test dengan smallest commitment (5 min daily) sebelum scale up.

Build-Measure-Learn bukan cuma framework untuk produk. It's a framework for decision making under uncertainty.

Bottom line

Buku ini changed how I think about building products.

Core insight: Don't assume. Test. Learn. Iterate.

Simple tapi powerful.

Wish I read this sebelum spend 3 bulan untuk feature 2% adoption rate. But better late than never.

Stop assuming. Start validating.

Topics

Book ReviewsSoftware Engineering

Related Articles

Deep Work: Catatan tentang Fokus di Era Distraksi

Refleksi tentang buku Cal Newport yang membahas kenapa kemampuan fokus mendalam jadi langka dan valuable - perspektif developer yang struggle dengan constant interruptions.

Fooled by Randomness: Catatan tentang Luck dan Skill

Refleksi personal tentang buku Nassim Taleb yang membedah bagaimana kita salah paham peran luck dalam success - notes tentang randomness yang kita ignore.

Hooked: Catatan tentang Habit-Forming Products

Refleksi personal tentang buku Nir Eyal yang membedah mekanisme produk yang bikin kecanduan - perspektif developer yang bikin dan juga victim dari habit loops.